Diakui Sebagai Penulis? Why Not!

Diakui Sebagai Penulis? Why Not!

“Mamaaa… .Tulisan mama ada di majalah nih,” teriakan itu terdengar beberapa saat sebelum pintu kamar saya terbuka dengan suara keras. Saya yang sedang tiduran hanya bisa melongo sambil menatap sebuah wajah yang muncul di ambang kamar.

“Ini loh, cerita yang mama bikin ada di majalah,” kata anak saya mencoba menjelaskan. Sambil menghampiri saya, tangannya mengacungkan sebuah majalah anak-anak.

Saya menatap halaman yang disodorkannya. Setengah tidak percaya menatap sebuah judul dengan nama saya tercetak di bawahnya. Benar-benar nama saya!

“Ciyeeee…. Mama masuk majalah,” ledek anak saya lagi. Dengan cepat saya membaca cerita itu dan mengerutkan kening. Ini tulisan tahun kapan ya?

Penasaran, saya menyalakan laptop dan mulai mencari jawabannya. Dari mulai menggunakan ‘search file’ sampai membuka manual satu demi satu file yang ada, tidak juga saya temukan file yang isinya seperti yang ada di majalah anak-anak itu.

Saya memang suka membuat cerita anak. Selain mengirimkannya ke media cetak, saya juga mengirimkannya ke sebuah situs cerita anak. Banyak komentar positif atas cerita-cerita saya. Bukan sekali dua kali saya menerima surat elektronik yang memuji isi cerita yang saya buat. Tidak dapat dipungkiri, saya tetap memimpikan tulisan saya bisa dimuat di media cetak. Bagi saya, itu sebuah ‘pengakuan’.

Baca Juga :   Tips Penulis Artikel – Cara Menulis Kutipan Singkat

Seingat saya, yang terjadi selanjutnya adalah satu demi satu tulisan yang saya kirim dikembalikan. Beberapa malah tidak jelas nasibnya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi mengirim tulisan ke media cetak. Saya bahkan memutuskan untuk menghapus folder itu. Untuk apa menyimpan tulisan-tulisan yang tidak layak dimuat di media cetak. Cuma bikin bête.

Seorang teman kemudian menawari saya untuk membuat sinopsis dan skenario sebuah acara di salah satu televisi swasta. Diluar dugaan, skenario saya diterima dan ditayangkan. Wahh.. berbunga-bunga rasanya! Apalagi itu adalah pertama kalinya saya membuat skenario. Paling tidak ada ‘pengakuan’ terhadap tulisan saya.

Mimpi saya selanjutnya adalah membuat lebih banyak skenario. Tetapi takdir menentukan lain. Saya hamil dan melahirkan anak kedua. Urusan membuat skenario pun terhenti. Tidak mungkin saya membuat skenario dalam tenggat waktu yang sempit sambil mengurus bayi. Belum lagi mood yang naik turun.

Di saat saya memutuskan untuk (kembali) berhenti menulis – kali ini menulis skenario – tiba-tiba saja saya mendapati cerita yang pernah saya kirim muncul di sebuah majalah anak-anak. Sebuah ‘pengakuan’ yang sudah lama saya tunggu. Mimpi yang menjadi nyata setelah melewati rentang waktu yang cukup lama dan jalan yang berliku.

Baca Juga :   Info Penulis Artikel – 3 Jenis Media Pers Yang Ada di Indonesia

Saya kemudian teringat kata-kata seorang teman.

“Every moment has its moment.”

Setiap sesuatu itu ada saatnya dan hanya DIA yang tahu kapan saat yang tepat bagi saya untuk mendapat ‘pengakuan’. Yang perlu saya lakukan hanyalah terus menulis. Omong-omong soal menulis, rasanya saya jadi kangen untuk kembali menulis. Siapa tahu ada ‘pengakuan’ lain yang menunggu saya di depan sana.

Artikel Terkait :

Author: Administrator

Hanya seorang blogger pemula yang lagi belajar main blog... Mudah2an sobat suka yaaa... dengan artikel2 yang ane sajikan... jangan lupa komen dan subscribe...